Jl. Miftahussalam, Desa Mesjid Trienggadeng, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya
Periode: 2025-2031
Sejarah Gampong Mesjid Trienggadeng bermula sekitar tahun 1940-an. Pada masa itu, Kecamatan Trienggadeng belum memiliki masjid sama sekali, sehingga satu-satunya masjid yang berdiri berada di wilayah gampong ini. Dari keberadaan masjid tersebut, masyarakat kemudian menamai daerah ini sebagai Gampong Mesjid Trienggadeng. Keuchik pertama yang memimpin adalah Puteh, yang menjadi tokoh awal dalam pembentukan struktur pemerintahan gampong.
Pada periode 1945 hingga 1965, kepemimpinan gampong dijalankan secara tradisional dengan struktur sederhana. Keuchik Puteh, kemudian digantikan oleh Abubakar Aman dan Itam, memimpin bersama perangkat seperti Sekretaris Gampong (Sekgam), Tuha Peut, dan Tuha Lapan. Sistem pemerintahan kala itu masih sangat bergantung pada musyawarah adat, dengan peran tokoh masyarakat yang kuat dalam pengambilan keputusan.
Memasuki tahun 1970-an, struktur pemerintahan gampong mulai mengalami perubahan. Abdullah yang menjabat sebagai keuchik memperkenalkan peran LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) dan LMD (Lembaga Musyawarah Desa) sebagai bagian dari sistem pemerintahan. Perubahan ini mencerminkan adaptasi terhadap kebijakan nasional yang mendorong desa untuk memiliki lembaga formal dalam pembangunan dan pengelolaan masyarakat.
Pada dekade 1980-an hingga awal 2000-an, kepemimpinan gampong silih berganti dari H. Aziz, Ismail Ibrahim, Muhammad, hingga Aiyub Ibrahim. Struktur pemerintahan tetap mempertahankan kombinasi antara keuchik, sekdes/sekgam, serta Tuha Peut. Masa ini ditandai dengan semakin kuatnya peran lembaga desa dalam mendukung pembangunan, meskipun tradisi musyawarah adat tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan masyarakat.
Sejak tahun 2005 hingga sekarang, kepemimpinan gampong dijalankan oleh Muhammad AH, Tgk Sulaiman, dan Tamal Khani. Periode ini menunjukkan kesinambungan tradisi pemerintahan gampong yang tetap berakar pada nilai adat, namun juga beradaptasi dengan sistem administrasi modern. Keberadaan masjid sebagai simbol awal berdirinya gampong tetap menjadi identitas utama, sekaligus pengingat bahwa Gampong Mesjid Trienggadeng lahir dari semangat kebersamaan masyarakat dalam membangun pusat ibadah dan kehidupan sosial.