Perkembangan pembangunan di Gampong Mesjid Trienggadeng dimulai sejak tahun 1945 dengan berdirinya Mesjid Tuha. Pembangunan masjid ini menjadi tonggak awal tersedianya sarana pendidikan agama bagi masyarakat setempat. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan penguatan nilai-nilai keislaman, sehingga membentuk identitas religius gampong sejak masa awal berdirinya.
Memasuki tahun 1973, gampong kembali mengalami kemajuan dengan pembangunan Meunasah Gampong. Meunasah berfungsi sebagai sarana ibadah tambahan sekaligus tempat musyawarah masyarakat. Kehadiran meunasah memperkuat tradisi musyawarah adat dan memperluas ruang interaksi sosial warga. Sejak saat itu, meunasah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang lebih dekat dengan masyarakat sehari-hari.
Pada era modern, pembangunan fisik mulai diarahkan pada infrastruktur transportasi dan ekonomi. Tahun 2009 dibangun rambat beton yang memperlancar transportasi, disusul pembangunan pasar desa pada tahun 2010 yang meningkatkan pendapatan masyarakat. Tahun-tahun berikutnya, pembangunan jalan rambat beton dan saluran irigasi (2011–2012) semakin memperkuat aksesibilitas dan mencegah banjir, menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Periode 2013 hingga 2016 ditandai dengan pembangunan yang lebih beragam, mulai dari saluran pembuang untuk kebersihan, pintu gapura sebagai batas gampong, hingga kantor keuchik sebagai pusat administrasi. Infrastruktur transportasi terus diperkuat dengan pembangunan jalan lingkar dan rambat beton, sementara saluran pembuang dibangun untuk menjaga kebersihan lingkungan. Periode ini menunjukkan integrasi antara pembangunan fisik, administrasi, dan kebersihan lingkungan.
Sejak 2017 hingga 2019, pembangunan gampong semakin fokus pada kesejahteraan masyarakat. Program seperti mobilisasi traktor Kubota, rumah sehat fakir miskin, rehab rumah, serta pembangunan gedung workshop dan pos kamling menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan ekonomi, perumahan layak huni, serta keamanan warga. Infrastruktur jalan tetap menjadi prioritas, dengan pembangunan rambat beton yang terus berlanjut. Keseluruhan pembangunan ini mencerminkan transformasi Gampong Mesjid Trienggadeng dari pusat ibadah tradisional menjadi gampong yang modern, dengan keseimbangan antara kebutuhan spiritual, sosial, ekonomi, dan lingkungan.